Monday, September 28, 2015

Untitled

We get old and get use to each other. We think alike. We read each other’s minds. We know what the other wants without asking. Sometimes we irritate each other a little bit. Maybe sometimes take each other for granted. But once in awhile,I realize how lucky I am to share my life with the greatest woman I ever met.



So by being strangers, we will walk on our own path.. Again now the fear of commitment and also married life is strip out of my mind and I no.longer believe in relationship.

Sunday, June 14, 2015

For You Who Keep Trying

For someone who stand by my side, no matter what happen. I know that you will always be watching me out. You will always be there and gave me those feeling from a distance. Always anything I do, you know it and you always tend to know even more. Admiration isn't wrong after all my beloved sister.
Well, there are choices which can't be think logically. Just like us, between you and me. We tend to take care of each other but you didn't force to seize me.
Being the best is what you do, even I know how much you really want this to be more than now. How you always hugs me and stand by my side and hold my hand when I'm down. It was clearly shown on your face and eyes. How much you want this to be more. How much you want us to be together.

1. Maintain without any idea what will happen later.


To share everything thing that we did together. Days we spend time to try hide how comfortable we are. I never know, how often you gave me those glance, and how you make my smile as your encouragement.
I know you're stealing a moment just to see me, giving me prayer and encouragement that I never realize how deep your feelings are.
I've never seen you get disappointed, even though at the first meeting I wasn't single. In the past I was someone else's encouragement which encouraged by you. I admit that being with you was comfortable even though I was with someone else.

2. Looking at each others feels enough.

Even though we are still close but time is the reason why we can't meet now. And I still think about burying all this thought about how good you are to me. Hey sister, I was sad at the time, I was hurt by someone. And there you are trying to know my situation and after that even I went for someone else. You still stand by my side. You are the only person who believes that I still right and that I can get through everything.
I never dare to acknowledge on how I feel about you, Now I look at you and it feels that it was enough even though I will still to deny that we are not mean to be together because of similar reasons.

3. Happy being with you.

I'm happy now sister, though sometimes I'm in a fight with my relationship with someone (which are now has ended) who I admire but it all look reasonable at the time. I admit that I lose, feeling defeated by your feeling which so strong feeling to be by my side and how I let it go to be with someone who seems don't appreciate me at all. Which I volunteered to go with her. With someone who was reasonable not with you who was comfortable and loving. But that's life and choices, a life I had to choose.

4. How happy I am with what I chose.

Anyway, just straight to the point, I don't have time to regret how much I deny that you are very good, even sometimes I want to gave you a second chance without any pledge about anything.
And again I suppose it must be forgotten and forsaken what I call comfortable. I was trying to examine that comforts was a different comfortable though you know that I'm not honest about that.

For a friend and also a sister who keep maintain being with me, and stand by my side even we are not likely will be lovers, thank you very much. I do love you, as a sister, as a friend and also as a family.

Merelakanmu Bukan Berarti Aku Menyerah

     Sebagai seseorang yang telah memasuki umur 25 dan sudah seharusnya menuju kekedewasaan, tentunya kita pernah berusaha menemukan jodoh kita. Ini sudah bukan lagi umur dimana kita masih mau bermain-main dalam menemukan pasangan. Bukan lagi hanya untuk kesenangan belaka, tetapi untuk berpikir lebih jauh dan lebih serius.

Beberapa hal mungkin telah kita lakukan. Diantaranya dengan menjalin komunikasi dengan beberapa orang yang menarik perhatian kita. Kita pun punya krtiteria sendiri tentang seperti apa sosok orang yang ingin kita cari tahu tentang dirinya dengan lebih dalam. Hal itu karena kita tak lagi ingin lagi bermain dengan cinta-cintaan.


Kita inginkan sosok yang benar-benar serius berjuang bersama dalam suka maupun duka kalau bisa hingga ajal menjemput. Karena ingat pernikahan hanya ada sekali. Setidaknya itu dalam pemahamanku. Bukan sesaat sebagai cinta monyet saat masa SMP-SMA atau bahkan awal kuliah. Cinta yang sering putus nyambung dalam pacaran. Bahkan sering pula berganti-ganti pacar dengan alasan ketidakcocokkan atau tidak mau mengerti. Hingga selanjutnya, seolah terasa begitu silih bergantinya orang yang dekat dengan kita. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Terkadang pun terasa lelah juga kita mencarinya.

Hingga akhirnya kita temukan seseorang yang begitu nyaman kala diajak berkomunikasi. Nyambung diajak bicara, serta terasa begitu menyenangkan hati saat kita bersamanya. Dan dimana kita bisa sepenuhnya terbuka tanpa harus menutupi apapun terhadapnya. Bukan karena ia sering memberikan hadiah pada kita. Bukan pula karena fisik ataupun kata-kata manis yang dilontarkan atau lebih tepatnya hanya karena gombal belaka, semua janji manis tanpa memikirkan kedepannya. Namun kita telah merasa menemukan sosok ideal itu. Sosok yang pantas kita jadikan pendamping hidup kelak.

Ketika waktu bersamanya terasa bergulir begitu cepat. Rasanya kita benar-benar begitu dekat sekali dengannya. Tanpa mengatakan kata cinta pun kita sudah tahu bahwa bahwa dia telah mencintai kita. Cinta itu mengalir begitu saja. Seolah gerak perhatian kita itu mengandung rasa cinta. Dia pun demikian, seolah dia begitu bahagia dengan hadirnya kita. Kini ia telah menjadi sosok istimewa bagi hidup kita. Namun di sisi lain yang tak kita duga. Karena dia begitu istimewa, tentunya tak hanya diri kita saja yang mencoba memilikinya. Banyak orang di lain sudut yang silih berganti melakukan hal yang sama seperti kita. Mereka yang mencoba meyakinkan si dia seperti kita. Bahwa setiap dari mereka meyakinkan si dia bahwa pantas untuk mendampinginya menjalani hidup. Terkadang banyak sekali saingan.

Meski dia telah menerima kita dan mengungkapkan bagaimana cintanya kepada kita, namun karena kita belum terikat dalam jalinan pernikahan, terkadang muncul anggapan bahwa masih kesempatan untuk pergi bersama siapapun yang bisa merebut hatinya dari genggaman kita. Faktanya memang banyak yang pindah kelain hati walaupun dua insan telah lama berpacaran. ada yang hanya bertahan 2 tahun, ada yang hitungan 11 tahun bahkan lebih atau lebih singkat hitungan bulan, tapi nyatanya mereka bisa pisah dan pindah ke lain hati. Ya, itu karena ikatan dalam pacaran tidak mempunyai kewajiban sepenuhnya untuk tetap bertahan. Sebenarnya itu memang tergantung komitmen terhadap diri sendiri tapi kembali lagi ke pribadi pasangan. Sah-sah saja karena namanya juga jenjang pengenalan. Walau ada yang menganggap bahwa ini sebagai tahap menjalin keseriusan tapi sebaliknya juga ada yang menganggap bahwa pacaran bukanlah proses yang tepat. Seorang dari temanku juga berkata bahwa kita berpacaran adalah langkah awal untuk menuju jenjang menikah dengan masalah kita.

Kembali ke topik awal, terkadang kita merasa yakin, tapi akan selalu ada saat-saat dimana keyakinan kita tergoyahkan, karena hadirnya sosok lain yang begitu istimewa di hidupnya. Aku akan mengambil contoh sebagai mahasiswa dengan yang sudah bekerja- ada temanku yang 11 tahun sudah berpacaran tapi akhirnya berpisah,
"Terkadang sosok-sosok saingan kita itu hadir seseorang yang juga sangat menarik perhatian si dia. Bahkan kita sadar bahwa dia lebih baik dari kita."


Sosok itu pun sudah begitu siap untuk meminangnya. Hingga suatu saat si dia pun terlihat gundah dengan perasaannya. Apakah tetap ingin menunggumu atau beralih mempersilahkan orang lain untuk membahagiakan dirinya. Hal itu bukan menandakan bahwa dia itu sosok yang tak setia dengan perasaannya. Tapi ada pula yang ragu ketika mulai di terpa masalah-masalah dimana ia merasa seorang yang lain merasa lebih membuat dia nyaman dibandingkan kita. Sehingga dia dilanda kebinggungan diantara 2 orang. Namun karena memang setiap orang punya hak untuk memilih pasangan yang terbaik di hidupnya sebelum memutuskan untuk menikahinya.

Berbeda halnya dengan pernikahan, karena kebanyakan orang berharap bahwa pernikahan itu cukup sekali, berjuang bersama dan jika beruntung membesarkan anak-anak hingga besar nanti dan berharap bisa bertahan hingga akhir ajal. Maka terkadang dalam ikatan pernikahan, walaupun ada seribu sosok lain yang datang menghampirinya. Dia yang baik itu akan tetap setia untukmu, karena dia telah menjadi milikmu. Kita mulai berpikir, apakah ingin tetap memperjuangkannya atau merelakannya bersama orang lain. Hal itu mungkin terasa menyakitkan bagi diri sendiri. Bahkan begitu berkecamuk di hati.

Akhirnya kita tersadar, bahwa jodoh itu bukanlah didapatkan dengan memaksa orang lain untuk mau bersama kita. Namun kerelaan dengan ikhlas mau bersanding dengan kita. Cinta itu juga bukan hanya tentang rasa untuk memiliki seseorang, namun rasa untuk membuat orang lain lebih bahagia semenjak bersama kita. Kita pun akhirnya merelakannya, menyadari dan memahami mungkin si dia akan lebih bahagia bersama dengan sosok itu.

Kesadaran dan kepahaman inilah yang mampu meredam pedihnya hati karena tak akan memilikinya. Di sisi lain tiba-tiba si dia justru bertanya pada kita dengan wajah sedihnya.

"kenapa kamu menyerah untuk mendapatkanku?"

"Apakah kamu sudah bosan sama aku?"

"Apakah kamu ga mau menunggu aku lagi?"
etc

Terkadang hal ini kembali ditanyakan meski dia sudah bersanding dengan orang lain? Sesungguhnya pertanyaan ini tidak bisa dijawab, kita merasa waktu berjalan pelan dan membuat kita binggung. Bukankah dia juga menyukai sosok yang lain? Namun dia masih ingin diperjuangkan? Bagaikan saklar lampu tiba-tiba perasaan kita menjadi kosong dan merasa apakah tidak aneh? Tidak cukupkah dia dengan dia atau setidaknya memilih satu? Karena sekarang setelah semua ini, semua kata-kata sudah berat rasanya untuk diucapkan. Yang kita ketahui hanyalah bahwa kita telah mencintainya dengan tulus dan bertahan hingga kini. 

Sekali lagi diingat tapi, jangan merasa pertanyaan ini sebagai kesombongan diri kita bahwa dia masih mencintaimu dan merasa bahwa kita adalah pemenang. Tetapi ada kalanya kita harus rendah diri dan pergi, karena terkadang sudah tidak bisa lagi kita memperjuangkan yang seperti ini, ya mungkin dia cinta sejatimu, dan mungkin pula kamu mau memperjuangkannya, bila ya, maka perjuangkanlah dia, tetapi bila dia masih dengan yang lain, janganlah menjadi penganggu dan terimalah kenyataan itu. Ingat bahwa dalam setiap hubungan pasti akan berpisah, tinggal kita menerima kenyataan ini dan melepaskan. Setidaknya kamu telah berjuang dengan tulus.


"Merelakanmu bukan berarti aku menyerah, tetapi aku ingin kamu bahagia"

Friday, May 22, 2015

Something was made so clear that we aren't ex.

So, Today I just found out about something. Well actually it's not completely wrong to do so. Let's be clear from now on.
"WE ARE NOT AN EX."
So all of those memories and sweet promises are just a merely friendship. Just let say a friend with benefits. A lot of benefits and still a few downside from it, such as I was keeping this feeling towards her. She made her point about we were never in the state of relationship between girlfriend boyfriend but rather just a girl friend and guy friend. So our broke-up was just a "clear way" of saying let's step away from each others.
And yet now, she want to be with others and still want me to be around of course I might say the lovers without relationship. Cause she want to be with me 2or 3 years from now (2015) which in my head doesn't make a sense. If we are not in a relationship, why would it be a break-up in the first place, and why I should keep this heart and keep pushing other girl away? I could just play around. Well actually I'm not even honest to myself. So was my blog before this was appropriate? Or should I delete it now? the Our Love Story- ended as a one side love and as if it was just my fantasy we are having a relation. So what was with the promises and the ring that I gave to you?


The easiest way to avoid something is to make up an excuse for it, and we all do it occasionally, like there’s not enough time during our busy day to join the gym, or it’s too late now to start learning a new language because we’re too old. I know there’s that silent voice in your head that says these things aren’t true, but you always find a way to ignore it somehow, don’t you? However, if you decide to work on your happiness, it’s time to stop being lazy! It’s never too late and you’re never too old to start something new and exciting.

Tuesday, May 19, 2015

Just a little chit chat of break up do and don't do



Well, this happen to me a few days ago, and I learn something from this. Actually I'm curious what did she told her friend about me until her friend kinda judging me. And told about hurting, Well hello. It's works both side. Both of us were hurt. So after a break up and you need to let the steam off and move forward, just do and don't do this thing later:


So remember this few tips of letting go:
  • If you guys have mutual friends that's OK. Don't cut them off it's not their fault it didn't work out. And most of all, it's okay but try not to tell something that didn't happen. 
  • Go to a concert. Let loose and get some good pictures in, while you're at it hang it up on the wall when you get home. It'll remind you what a great time you had without that person. 
  • Find new interests or try something you finally wanted to try after a long time. 
  • Be with family and friends every so often. 
  • Take a road trip, whether its 25 miles (40 km) or 100 miles (160 km) getting as far as possible from the drama will make it seem like you're on the other side of the world. 


Which are the don't do!

  • Don't stalk them and send them hate mail, it's only gonna prove their point on why they left you in the first place. 
  • Don't isolate yourself from the the world. Your world should not revolve around them. Get out, do somethings. 
  • Don't make people pity you. If they feel sorry for you and want to help willingly fine, but don't pull the whole "woe as me" act or else you will push even more people away. 
  • Don't blow your situation out of proportion. Yes, they did hurt you, but you have to understand millions of people have the same problem, you're nothing special. 
  • Don't hurt yourself in anyway. As much as this person is/was important to you they are not worth your physical pain. If you have urges talk to a doctor or a close friend/relative so they can help you. 
  • If you have thoughts of suicide again consult a doctor or close friend/family member ASAP. 
  • Don't set out to make them jealous. It's normal to think that way, but don't go through with it. It won't end well from anyone and its definitely not being the bigger person. 

  • Don't cling to people. People shouldn't mind hanging out with you, but don't suggest being with them every day and every hour. People have lives too.

Monday, May 11, 2015

Why do I want to feel loved so much?

Malam ini sesuatu aku sadari...
Mengapa aku begitu desperate untuk mendapatkan cinta...
Bahkan aku terkesan memaksakan diriku...
ku takut bahwa diriku hilang,aku takut tak lagi diterima orang
Ya... memang begitu...
Aku tahu dia sudah jadi milik orang lain, tapi aku masih saja berharap akan semua kata-katanya... 
Bodoh, ya memang bodoh. Aku tidak tahu apakah ini hanyalah perasaan setelah break-up yang merantaiku? Atau hanya sebuah harapan bahwa semua akan baik-baik saja?
Selama ini aku memang sudah sering 'date' dengan beberapa orang, baik secara resmi. Aku sayang mereka, dan selama aku memiliki hubungan dengan mereka, aku hanya sayang pada mereka. 
Tapi ke belakang ini, aku menyadari, mengapa sepertinya aku desperate untuk mendapatkan cinta?
Aku tau orang sering bilang "Single itu nyaman kok" atau "Seharusnya kamu bisa hidup bahagia bahkan tanpa memiliki hubungan pacaran"- Ya memang aku setuju, memang siapa bilang jomblo itu ngenes, siapa yang bilang kalau ga punya pacar itu ga bahagia... Tapi kenyataannya, entah mengapa aku begitu desperate dengan "Ingin disayangi dan menyayangi seseorang". 
Bahkan akhirnya sudah jelas dia sama siapa, tapi aku desperate untuk tetap dekat, untuk tetap sayang... Meski sudah jelas dibohongi, bahkan tak ada kata-kataku yang dia ingat... Janji yang ada maupun mungkin hanya turun level ke "Aku sayang kamu" hanya ketika bertemu?
Apakah aku terlalu berharap akan cinta karena situasi keluargaku? 

Is that so bad that i want it so much?

Sebenarnya aku tidak akan terlalu perduli kalau ini tidak berpengaruh pada mentalku sampai hariku sering rusak karenanya. Ya, aku pada akhirnya menjadi pribadi yang jauh lebih buruk daripada dulu.
Mengapa aku begitu tergila-gila. Mengapa aku bisa jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. 
Tentu biasanya dari semua curhat yang masuk padaku ketika mereka patah hati setelah putus, mereka merasa tidak nyaman karena mereka jadi merasa ragu apakah mereka benar-benar dicintai atau hanya dipermainkan. Bukankah wajar ketika PDKT semua terlihat indah tapi ketika putus seringnya berakhir buruk? Aku sudah mengerti ini dari awal, tapi untuk kasus kali ini semua berbeda. Bahkan ketika dia sudah jadi milik orang lain, aku masih saja berharap lebih. masih saja menyentuhnya dengan sepenuh hati. masih saja menciumnya bahkan memeluknya. Apa yang aku harapkan dari semua ini? kenapa aku begitu bodoh hingga bertukar posisi? Apa bedanya aku dengan dia kalau begitu? Sekali lagi kenapa aku mau dibegitukan? Kemana diriku yang tegas, yang tidak ingin menganggu milik orang lain? Kenapa turun ke level yang bagaikan pecundang? tapi takut untuk move on?

Okey cukup tentang aku... Aku ingin menilai diriku sebagai orang dari luar diriku...
So:

I need to be loved so much, I want to feel loved


Ketika masih menjadi pendengar yang baik, aku sering mendengar kata-kata ini dari temanku yang curhat padaku, khususnya cewek. Bahwa mereka butuh cinta atau mereka ingin seseorang untuk mencintai mereka dan hanya mereka.


Bahkan kadang setelah putus, mereka jadi ragu akan perasaan pasangan mereka, apakah mereka benar-benar tulus menjalani atau hanya "tresno jalaran kulino" atau "pemanfaatan" atau "trophy". Well name it as you like it. Sebuah denial. 


Perasaan "ingin disayangi" sebenarnya alasan utama seseorang merasa galau setelah putus dan tentunya bukan terhadap pasangan mereka sebelumnya- ingat bukan pada mantan terakhir!!! 


Terkadang kalau mereka curhat sama aku, kata-katanya yang paling sering keluar "aku cuma mau tau kalau dia itu sayang ga sih ama aku?" setelah putus. -ini nih yang menyebabkan susah move on. Kepo akan perasaan setelah kalian memutuskan untuk berpisah. Dan terkadang, ketika mereka tidak disayangi, mereka berharap semua bisa diperbaiki dan dijalani lagi tapu ada juga setelah mereka sadar bahwa mereka disayangi- mereka langsung get over the feeling dan move on sesegera mungkin. 


Kembali pada kenapa seseorang merasa butuh dicintai? atau mengapa mereka perduli tentang dicintai daripada menjaga hubungan pacaran itu sendiri? Aku ingat pernah membaca tentang psikologi bahwa manusia membutuhkan orang lain dan membutuhkan cinta.
The psychological need for love


Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah rasa cinta. Dalam psikologi, ini tidak dianggap gangguan selama tidak mempengaruhi kehidupan seseorang secara negatif. (jadi stalker, jadi orang mesum, pencuri pakaian dalam atau lainnya yang menganggu)


Tentunya juga dianggap menganggu bila perasaan butuh rasa cinta:
  1. Membuatmu jauh dari hidup bahagia. (disebuah film aku pernah dengar "love has no meanings unless i find someone who loves me" yang berakhir orang ini membunuh orang yang dia cintai. Okay, it's creepy. So don't be like this person)
  2. Lebay!! Jalani aja seperti biasa, jangan terlalu lebay karena lebay akan berakhir pada kamu meragukan dirimu sendiri apakah kamu dicintai atau tidak. Apakah perasaan dia sama seperti perasaanmu?
  3. Dan dari 7th habits- ketika rasa akan dicintai menjadi duniamu-menjadi hal yang terpenting dalam hidupmu.



tentu ini hanya beberapa yang aku tuliskan, masih banyak yang lain, tapi bila tanda-tanda ini ada di diri kamu, sudah pasti bahwa ada yang salah akan cara berpikirmu dan ini harus dirubah. Khususnya untuk si penulis. Haha. (LOL). Kalau semua yang kamu perdulikan di dunia ini hanya untuk merasa dicintai seseorang atau menemukan seseorang yang hanya mencintaimu- sepertinya kamu harus kembali menoleh ke masa lalumu, dan melihat apa yang pernah terjadi hingga terjadi perubahan yang aneh pada dirimu. -Untuk si penulis sih terjadi setelah Lie dan sebelum semakin jauh sudah harus instropeksi diri-


Tentu tiap orang berbeda dan sebagai hasil dari perjalanan hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang berbeda, hasrat yang berbeda dan apa yang membuat mereka berjalan sesuai dengan masa lalu mereka. Beberapa ada yang membawa mereka menjadi pribadi yang tidak yakin bahwa mereka berharga dan membawa mereka BUTUH dicintai sebagai bukti bahwa mereka itu sama seperti orang lain. Atau bahkan sebaik orang lain.(Kamu mungkin mau tahu dasar masa lalu mempengaruhi kehidupan masa dewasamu)
Ini beberapa contoh yang menyebabkan mengapa kamu merasa sangat butuh untuk dicintai orang lain:

  1. Orang Tua : Tentu saja, ke dua orang tua, bagaimana kita(aku) berinteraksi dengan ayah ibu kita. Lihat saja beberapa pasti ada jarak yang cukup terlihat diantara orang tua dan anak, Pengambilan jarak-sikap dingin-dan acuh tak acuh bahkan di antara ayah dan ibu.. Terkadang karena orang tua yang seperti ini kita tumbuh menjadi "aku ingin dicintai" bahkan menjadikan ini sebagai upaya bahwa kita tidak akan menjadi seperti orang tua yang seperti ini dan kerap kita mendengar "Aku ingin dicintai oleh suamiku kelak" atau "aku ingin dicintai oleh istriku" tapi pada akhirnya ketika memiliki hubungan, kita selalu menjadi ambigu dan skeptik tentang perasaan pasangan kita. 
  2. Saudara : Sebenarnya menjadi yang termuda kerap kita merasa kita kurang disayangin, (tentu ada juga yang termuda lebih disayang), menjadi yang termuda di keluarga, kadang merasa tersisihkan di keluarga. Tapi ada pula kasus dimana yang tertua dibanding-bandingkan dengan yang muda, lebih pintar, lebih rajin, lebih bersih ataupun lebih berprestasi. Pada akhirnya yang selalu dianggap buruk atau kurang bisa menyaingi satunya merasa "apakah orang tuaku sayang padaku?" atau "Mereka hanya sayang akan saudaraku, apa-apa selalu saja saudara(kakak/adik)ku. Pada akhirnya kita kerap tumbuh untuk menjadi lebih daripada kegagalan-kegagalan kita dan mengapa ini menjadi perasaaan aku ingin dicintai. 
Dari kedua diatas akhirnya memperngaruhi kehidupan kita di luar: Setelah melihat ted.com ada beberapa alasana kenapa orang merasa membutuhkan rasa cinta terhadap dirinya, bagi mereka, rasa dicintai sama dengan rasa diakui oleh seseorang, dianggap penting oleh seseorang. Tentu saja pada akhirnya orang-orang seperti ini mempunyai masalah pribadi akan skeptikal benarkah (benar-benar dicintai oleh pasangan) atau benarkah kita pantas untuk dicintai? Tentu semua ini dapat berubah asal kita memiliki kepercayaan diri. Tapi menjadi skeptikal karena masa lalu bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ketika kita begitu ingin diakui oleh orang lain.
I am so much in need of love!


Bila kamu selalu mengatakan "aku butuh seseorang yang mencintaiku" atau " Aku tidak merasa dicintai" sepertinya aku dan kamu harus segera mengerti bahwa yang kita cari itu cinta, bukan pasangan. Ini psikologi diri kita, karena tak perduli seberapa banyak pasangan kita, tanpa menyadari bahwa cinta itu ada, kita akan selalu menjadi skeptis akan perasaan pasangan kita.

Sebenarnya jangan merasa bahwa kita sangat membutuhkan dicintai atau merasa tidak pernah disayangi siapapun. Buka mata, karena ada mereka yang sayang padamu, dan perlu dimengerti bahwa rasa sayang kita yang memiliki masa lalu seperti diatas bahkan di luar itu, adalah perasaan yang berlebihan karena bila nantinya kamu bisa menanggalkan masa lalumu, kamu akan menemukan apa itu cinta.

Tentu saja kita juga perlu menumbuhkan harga diri dan rasa percaya diri bahwa kita itu pantas dicintai dan tidak perlu kita membangun dinding-dinding tebal karena kita takut sakit hati.

Dan yang paling terakhir "The Secret" Berhentilah berpikir negatif, apalagi selalu mengeluarkan kata-kata negatif hingga akhirnya kamu mempercayainya sendiri bahwa kamu tidak dicintai dan sangat memerlukan cinta.

Kalau kamu selalu berpikir bahwa orang tidak sayang padamu atau bagaimana mereka memperlakukan kamu hanya karena mereka baik dibandingkan karena mencintaimu, maka ini perlu dirubah. Kita perlu memikirkan cara lain, jangan dengan cara berpikirmu selama ini. Bangun cara yang lebih baik dan akhirnya rasa ingin benar-benar dicintai akan sirna dengan berjalannya waktu
Ada banyak buku ataupun web yang bisa kamu baca demi merubahmu. Salah satunya

Atau juga:

P.S ini adalah yang aku baca, sebenarnya mungkin tidak begitu berhubungan dengan yang aku tulis- tapi mungkin bagus untuk dibaca:
" Chapter 10: Tackling Your Dire Need for Approval A Guide To Rational Living, Albert Ellis & Robert Harper"
Tackling Your Dire Need for Approval Irrational Belief #1: 
The idea that you must have love or approval from all the significant people in your life. People strongly desire approval and would be much less happy if they received none. Nonetheless, adults do not need approval. The word need derives from the Middle English work nede, the Anglo-Saxon nead, and the Indo-European term nauto, which mean to collapse with weariness. In English it mainly means necessity; compulsion; obligation; something utterly required for life and happiness. Wants, preferences, and desires are not needs or necessities. When you insist that you absolutely must have approval, you self-sabotage yourself for several reasons: Your demand that every important person love you creates a perfectionistic, unattainable goal. If you could get ninety-nine people to love you, you will always encounter the hundredth that doesn’t. Even if you demand love from a limited number of people, you cannot usually win the approval of all of them. Some, because of their own limitations, will have little ability to love anyone. Others will disapprove of you for reasons entirely beyond your control. Still others will despise you forever because of some prejudice against you. Once you absolutely “need” love, you will worry how much and how long you will be approved. Do others really care enough? And if they do, will they continue to care tomorrow and the year after? With thoughts like these, you will feel endless panic. If you always need love, you must always be distinctly lovable. But who is? Even when you have lovable traits, how can you display them at all times for all people? If you could always win the approval of those you ”need” you would have to spend so much time and energy doing so that you would have no time for other pursuits. Constantly striving for approval means living mainly for what others want you to do rather than for your own goals. It often means playing the patsy and buying others’ approval. Ironically enough, the greater your need for love, the less people will tend to respect and care for you. Even though they like your catering to them, they may despise your neediness and see you as a weak person. Also, by desperately trying to win people’s approval, you may easily annoy them, bore them to distractions, and again be less desirable. Feeling loved, once you achieve it, may be boring and bothersome, as people who love you often make inroads on your time and energy. Actively loving someone else is a creative and absorbing act. But the dire need for love easily blocks ardor. Perversely, it sabotages loving, because when you demand intense affection, you have little time and energy to devote to the growth and development of those on whom you make your demands. The dire need for love frequently encourages your own feelings of worthlessness: “I must have love, because I am a lowly incompetent individual who cannot possibly get along without it. Therefore, I must have, I need, devotion from others.” By desperately seeking love in this manner, you frequently cover up your own feelings of worthlessness and thereby do nothing to tackle them and overcome them. The more you “succeed” in being greatly loved, the more you may inflate this goal and continue to indoctrinate yourself with the idea that you cannot regulate your own life. For these reasons, you can rationally forgo the goal of gaining undying love. Instead, you’d better accept yourself and remain vitally absorbed in people, things and ideas outside yourself. For paradoxically, you usually find yourself by losing yourself in outside pursuits and not be merely contemplating your own navel. If you actually have a dire need for love; if you accept the fact that you have it; and if you keep challenging, questioning, and disputing it, it will ultimately and often quickly, decrease. For remember: It is your need; and you keep sustaining it. Other methods to combat and minimize your overwhelming love needs include: Ask yourself what you really want to do, rather than what others would like you to do. And keep asking yourself, from time to time: “Do I keep doing this or refusing to do that because I really want it that way? Or do I, once again, unthinkingly insist on trying to please others?” In going after what you really want, take risks, commit yourself, and don’t desperately avoid making mistakes. Do not be needlessly foolhardy. But convince yourself that if you fail to get something you want and people laugh at or criticize you, and not merely show you how you failed, they may have a problem. As long as you learn by your errors, does it make that much difference what they think? Focus on loving more than on winning love. Realize that vital living hardly consists of passive receiving but of doing, acting, reaching out. And just as you can force yourself to play the piano, do yoga exercises, or go to work every day, you can also often commit yourself to loving others. In so doing, your dire needs for their love will probably decrease. Above all, don’t confuse getting love with having personal worth. If you rate yourself as having intrinsic worth or value as a human, you’d better claim to have it by virtue of your mere existence, your aliveness- and not because of anything you do to “earn” it. No matter how much others approve you, or how much they may value you for their own benefit, they can only give you extrinsic value or worth to them. They cannot, by loving you, give you intrinsic value- or selfworth. If intrinsic value exits at all (which we seriously doubt, since it seems an undefinable thing in itself), you get it because you choose, you decide to have it. It exists because of your own definitions. You are “good” or “deserving” because you think you are and not because anyone awards you this kind of an “inherent value”. If you can really believe these very important points- that you need not rate yourself, your essence at all, and that you can choose to call yourself “worthwhile” just because you decide to do so- you will tend to lose your desperate need for others’ approval. For you need- or think you need- their acceptance not because of the practical advantages it may bring, but because you foolishly define your worth as a human in terms of receiving it. Once you stop this kind of selfdefeating defining, your dire need for their approval tends to diminish. Similarly, if you reduce your dire need for others’ esteem, you will find it relatively easy to stop rating yourself as a person, even though you continue to rate many of your traits. You will create unconditional selfacceptance (USA)- will value yourself merely because you are alive and kicking, and for that reason alone “deserve” to have an enjoyable life.


P.P.S : TEntu semua ini tidak bisa dilakukan begitu saja, karena bahkan aku sendiri belum bisa merubah sifatku ini, aku tidak bilang ini akan mudah. Tapi asal ada kemauan, tentu saja bisa. Mari kita sama-sama berjuang untuk menanggalkan rasa ingin dicintai dan lebih menerima apakah cinta itu sendiri. :) Mungkin aku terkesan munafik atau sok tahu. tapi everyone have their own right to write. Dan kita bebas menuangkan apa yang kita pikirkan. Tentu saja teori terkadang lebih mudah daripada mempraktekan. Kata-kata lebih mudah diucapkan daripada melakukannya. tapi tak ada salahnya kita berbagi... Semoga kita sama-sama maju menjadi lebih menerima diri kita sendiri dan bukan apa yang orang lain harapkan ataupun obsesi kita akan dicintai oleh orang lain. Good luck readers.



Writers

Be     

Sunday, April 5, 2015

Hal yang aku mungkin harus aku rubah dalam diriku. part 1

Aku pernah mencintai seseorang dengan sangat dan bahkan terlalu. Bahkan sampai detik ini aku masih terlalu sayang sama dia.. 
Aku pikir aku bisa mendapatkan kebahagian yang berujung hingga akhir hayat bersamanya, mencintaiku seperti aku mencintainya, menjaga perasaanku seperti aku menjaga perasaannya. Apapun yang ia minta aku penuhi, apapun yang ia larang pasti aku turuti. Dia kuanggap sebagai pasangan hidup sekaligus adik, sebagai kekasih sekaligus sahabat karena dengan begitu aku akan mencintainya juga menghargainya.



"Tidak bisa membedakan mana cinta sungguhan dan mana cinta dengan pemanis buatan. "

Ah tidak baik mengatakannya seperti itu sesungguhnya hanya dia yang tahu. Dan dia mengatakan bahwa dia sayang padaku tetapi tentunya juga sayang pada yang lain... Sudahlah, lebih baik mengingat awal ketertarikanku padanya. Seperti baru kemarin, aku kelas SMP gemuk jelek dan pendek dan sering dibully oleh teman seangkatanku bernama Gabriella Susanti Daud, dari sinilah nantinya aku mengenal dia "adek" kelasku. Saat itu dia kelas 1, dan aku kelas 3.. tapi karena saat itu aku memiliki keinginan untuk jadi romo, jadi aku tak pernah mengubris cinta monyet macam itu... Tapi pertemuan kami kembali setelah SMA dan aku sangat terkesan padanya karena dia yang ceria, dan mudah diajak ngobrol, "KAta orang jawa Tresno jalaran kulino", ya mungkin itu awalnya...Tapi tentu saja tak tersampaikan karena ketika itu dia punya pacar... (Sampai akhirnya 2012 baru bertemu kembali). Tak perlu detilnya karena aku hanya akan semakin sakit mengingat semua itu...  Waktu berlalu dengan cepat begitupun dengan hubungan kami. Kami mulai mengenal satu sama lain, mungkin hanya dari sifat dan tingkah laku aku lebih mengenalnya, 

"Terlalu penurut! "
Mungkin itu kata-kata yang pas untukku. Selama kami bersama, mungkin bisa dihitung kata tidak, nggak atau kata-kata penolakan keluar dari bibirku. Bahkan yang selama ini aku terlalu protektif akan cara berpakaiannya akhirnya tetap saja aku luluh.
Hari-hari kami lalui begitu indah seperti layaknya anak SMA yang di bius cinta. (Sampai pada ahirnya hanya dia yang aku punya. Teman, persahabatan apa arti semua itu? aku sama sekali tidak mempunyai teman dekat bahkan aku mem'push' semua wanita yang memiliki perasaan lebih padaku.. 
Dulu, aku sangat yakin dia adalah yang terbaik, yang menghapuskan rasa khawatir dan traumaku. Aku juga berharap dia satu-satunya wanita yang akan kubawa ke pelaminan dan berjalan bersama dalam hidupku. Karena sebelumnya, dia nyaris tak ada cela, baik dan perhatian padaku. Sifatnya selalu membuatku terkesan, tapi seiring berjalannya waktu kenyataan berkata lain. Dia sosok yang egois, tidak suka diatur, angkuh dan terlalu memaksakan logika. Tentu aku terkadang kerap memaksakan kehendakku. Kami sama-sama egois tapi tentu saja aku harus selalu mengalah. Karena cintaku, Aku selalu menerima kekurangannya itu dan selalu berharap suatu hari dia akan seperti dulu lagi. Tapi harapan benar-benar berbanding terbalik. Impian selalu bersamanya harus aku kubur dalam-dalam, karena tidak ada yang perlu aku harapkan darinya lagi, karena dia lebih memilih pria lain dibanding aku. Dia yang kucintai, kupercaya, kuhargai perasaannya, ku turuti keinginannya dan ku jaga hatinya, tanpa rasa berdosa mengatakan bahwa dia sayang sama 2 orang. dan akhirnya lebih memilih pria lain yang baru dia kenal dibanding aku yang hampir 3 tahun bersamanya.

"Terlalu terbuka dan ingin tahu"
Kebiasaanku sejak berpacaran dari pacar pertama hingga yang aku jalani yang terakhir ini justru menjadi pisau yang mengirisku halus, pelan tapi pasti. Sejak awal aku sudah menjelaskan, bahwa akan jujur tentang banyak hal. Kamu boleh buka semua pesanku begitu juga sebaliknya. Tentu dalam taraf wajar, tapi jujur sebelum dia yang aku cintai dengan berlebihan, aku tidak begitu perduli dengan pesan ataupun dengan siapa mereka dekat. Tapi khusus untuk yang satu ini...3 kali aku merasa remuk redam. Tentu saja aku berubah, ketika semua itu selalu terjadi berulang-ulang. Aku terkadang memegang hp untuk main HP atau cari gambar DP BBM yang menarik atau lucu. Selama 1 tahun itu hal biasa, tapi tiba-tiba dia menjadi protektif dengan alasan ada curhatan teman. Dan history selalu dihapus. Tentu saja aku jadi curiga dan membuka history terkadang ketika ada percakapan diantara kalian. Sampai akhirnya ada kata-kata "terima kasih sayang" di detik itu juga aku tidak berniat memegang hpnya lagi dan kuletakkan dan aku tidak mau mendengar penjelasannya. Bahkan aku bilang, "iya gpp, aku ga perduli kok". Tentu saja sakit, tapi saking sakitnya akupun tak mau jujur padanya. Sampai akhirnya dia benar-benar meng cut-off orang ini. Tapi setelah itu aku tak pernah lagi membuka history di hp dia. Sampai suatu ketika dia menjauh dariku, ketika aku cari selalu ada saja alasan untuk tidak bisa bertemu, online tapi tidak membalas percakapanku, bahkan ketika ibuku masuk rumah sakit, Disitu aku dengan jelas mengirimkan pesan padamu, dan dengan jelas aku melihat kamu chatting tapi tidak membalas chatku, maka aku ambil HPnya dan aku sodorkan kedia, dia chatting sama si SIM. Ya, dari situ, dia jelas memilih "Aku butuh teman untuk curhat, yang bisa objektif. Aku ngerasa ga diterima dimana-mana. Aku ngerasa...." Didetik itu kata-kata dia selanjutnya tidak ada yang masuk dalam pikiranku. Aku blank, aku kecewa dan sedih. Selama ini dianggap apa perjuanganku? Dianggap apa khawatirku? Tentu disini aku masih memaafkan dia, aku meminta dia memilih dan dia bilang aku yang dia pilih. Sampai akhirnya mau masuk ke tahun ke-3, dimana dia mulai melupakan janji bersamaku, dan selalu unavailable untukku. 

"terlalu sering bersama, terlalu over protektif"
Akhirnya kamu menceritakan betapa kita terlalu sering menghabiskan waktu bersama, betapa aku mengkekangmu, sehingga kamu tidak bisa mempunyai kehidupan lain, tidak bisa memperluas koneksi. Ya aku salah karena aku terlalu khawatir khususnya ketika pergi jauh-jauh ataupun pulang malam. Ya aku yang binggung akan perasaan berlebihan yang tidak bisa aku kontrol ini. Ini perasaan baru yang aku alami. Benarkah aku over protektif? benarkah aku cemburuan? Karena cemburuku untuk kamu baru 2x. Aku tidak perduli kamu peluk sahabatmu, kamu pergi sama siapa, aku tidak cemas, karena aku terlalu percaya sama kamu, bahwa kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku. Makanya aku selalu ingin tau kebiasaanmu kesukaanmu, dan masa lalumu. Cukup kabari sudah sampai, tapi sepertinya itu susah. Apakah perhatianku benar-benar kamu butuhkan? Sekarang aku bertanya-tanya. Aku yang selalu mendengar keluh kesahmu,

"terlalu terburu-buru"
Tentu saja yang satu ini yang harus aku rubah, terlalu terburu-buru. Hanya karena aku sayang dan attached tanpa alasan. It's just happen, seriously. Perasaan ini tiba-tiba muncul untuk dia, betapa aku aku rela berjuang untuk dia, dan betapa senyumannya selalu bisa merubah hari ku. Dan ini membuatku berpikir bahwa she's the one. Aku terlalu terburu-buru, tentu aku tidak menyesal memberikan perlakuan spesial untuk dia, yang aku sayangkan hanyalah kenapa berakhir dengan dia menyayangi 2 orang. Sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti dan semoga tidak akan pernah aku mengerti apalagi rasakan. Pembelajaran untukku agar tidak terlalu terburu-buru.

To be continue... 



P.S: edisi revisi: aku yang sebenarnya salah karena mereka dekat karena kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. aku yang memutuskan dia duluan. In her defends, that's how. How about before then?

Thursday, March 26, 2015

It's a privilege to have my heart broken by you… :’)

Hey kau yang berada disana,

Apa kabarmu? Mungkin akhir-akhir ini kamu tengah sibuk dalam pekerjaan dan kuliahmu. Aku bisa membayangkan betapa lelahnya dirimu, tapi sekarang kita adalah orang yang hanya sebatas kenal. Walaupun kamu tidak pernah mengatakan padaku, aku tau kamu sangat terbeban dengan beberapa hal serta tanggung jawab dan kewajiban yang harus kamu pikul... Apabila kita bertemu lagi? Akankah kita saling menyembunyikan wajah lelah kita dan menunjukkan senyuman yang tersungging maksa? Akankah kamu sembunyikan masalahmu dengan melempar candaan sebagai ganti pertanyaan-pertanyaan yang kamu anggap terlalu serius? Akankah juga kamu mengatakan sayang padaku ketika kamu juga mengatakan pada yang lain?

Hampir 3 tahun perjalanan kita bersama, sungguh disayangkan kamu meminta aku mengerti bagaimana rasanya bisa jatuh cinta pada dua orang sekaligus...

Ya hal ini akan selalu aku ingat. Karena aku yakin kamu akan selalu menjadi bayang-bayang yang menghantui dan selalu mendiami salah satu sudut hatiku ini.

Kamu yang selama ini selalu menjadi segalanya untukku dan yang selalu aku utamakan akhirnya memilih orang lain. Aku sengaja menuliskan semua ini sebagai pengingat bagaimana tidak terlalu mempercayai seseorang dengan berlebihan. Aku memang seorang pria yang jatuh cinta padamu dengan sungguh-sungguh. Tahukah kamu, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta sekaligus patah hati dalam waktu yang bersamaan. Sudah kukatakan berulang kali sebelumnya,. 

"I will love you with all my heart, even if it will make me crazy when everything ended. I will take that chance"
" I love you not because of I need you. But I need you because I love you"

Kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, kamu dengan segala kesederhanaanmu yang entah bagaimana caranya bisa memikat dan mengalihkan hampir seluruh perhatianku kepadamu. Kamu jugalah yang pada saat bersamaan bisa membuatku patah hati. Tak perlu ku jelaskan mengapa aku mengatakan hal seperti itu. Terkadang aku merasa murka, kenapa Dia harus menghadirkan sosok yang selama ini aku inginkan apabila akhirnya tidak akan mungkin kumiliki sampai kapanpun. Tak jarang aku memaki diriku sendiri yang begitu saja bisa ‘kecanduan’ dirimu. Iya, kamu itu candu. Setidaknya bagiku (dan mungkin juga baginya)...


Setiap kali aku menuliskan tentangmu, setiap kali itu juga otakku selalu mengingat semua waktu yang pernah aku lalui denganmu. Perdebatan yang sebenarnya tak penting, serta kenangan indah yang kita lalui, Khususnya ketika kamu tertawa ketika aku bertindak konyol. Aku tahu sungguh kecil kemungkinan kamu membaca blog ini (karena semua surat yang aku buat untukmupun tidak pernah kamu baca). Sungguh, sebelumnya aku sudah berusaha menyimpannya rapat-rapat ; sendiri. Setidaknya itu yang selalu berusaha aku lakukan. Menyimpan perihnya saat kamu menceritakan dan mengingat masa lalumu. Dan pada akhirnya aku juga menyimpan perihnya saat kumenyadari kehadirannya, atau menyimpan perihnya saat kamu bersamanya. Beberapa kali aku berusaha menjaga jarak denganmu, menghindari segala sesuatu yang berhubungan denganmu, berusaha tak mencari tahu kabar tentang keseharianmu,, tapi pada akhirnya ada seseorang yang selalu memberi kabar tentangmu, aku ingin berhenti mengontakmu, aku ingin pergi jauh dan tak lagi memperdulikanmu. Namun, lama-kelamaan rasa itu kian menyiksaku. Bagai duri yang menyumbat tenggorokan, aku tak kuasa untuk menahan rasa sakit ini. 

Kamu itu cuma satu dan tiada dua. Sungguh wajar kalau apabila bisa membuatku kecanduan sedemikian rupa hingga aku selalu memaafkan kamu setiap kali, hingga aku tidak bisa tidak memikirkan kamu. Tapi ketika kamu tak lagi sebahagia dulu disampingku, aku merasa sedih dan semakin tertekan. Semakin sakit rasanya melihat senyum itu hilang dari wajahmu,hingga akhirnya kamu memiliki dia. Aku tahu aku akhirnya cemburu, karena aku tahu dia menginginkan lebih padamu. Aku cemburu dan aku marah, namun sesungguhnya akan selalu ada hati yang lapang bila aku melihat senyummu terkembang disamping senyumnya,

Memang terdengar sangat klise, tapi aku yakin kamu bisa merasakan seperti apa rasanya, karena aku tahu kamu pernah merasakannya. Lagipula, bukankah lebih baik melihat orang yang kita sayangi bersama dengan orang lain daripada tidak bisa sama sekali melihatnya dihadapan kita?

Lalu bagaimana tentang rasa itu? Seperti yang berkali-kali aku katakan sebelumnya, kamu tak perlu khawatir,