Bagaimana mungkin orang yang mendampingi selama ini tak bisa mengerti?
---------------------------------------------------------------------------------
Kamu orang pertama yang membuatku mengerti arti menetap. Genggamanmu membuatku melangkah dengan tenang dan mantap
Sebelum bertemu denganmu aku benar-benar buta. Belum ada sosokmu yang kujadikan panduan, aku asal saja menjejakkan kaki ke beragam tujuan. Bermacam pintu hati pernah kuketuk, kumasuki, serta kujelajahi. Namun aku tak pernah bisa singgah dalam waktu yang lama. Aku hanya bisa bertahan beberapa musim saja. Entahlah, kaki ini sudah gatal, tak sabar ingin menjajaki lebih banyak hati sepertinya.
Kukira itu wajar saja, karena dulu pemahamanku akan arti kekasih memang masih belum terlalu dalam. Kupikir menjalin cerita cinta sangat sederhana. Menghabiskan hari-hari bersama orang yang disuka, tertawa, bercengkerama, serta bertukar panggilan mesra. Namun ternyata semuanya tak sesederhana yang kusangka. Di balik hubungan yang ada, ada komitmen yang diam-diam menuntut untuk dipanggul berdua.
Kukira itu wajar saja, karena dulu pemahamanku akan arti kekasih memang masih belum terlalu dalam. Kupikir menjalin cerita cinta sangat sederhana. Menghabiskan hari-hari bersama orang yang disuka, tertawa, bercengkerama, serta bertukar panggilan mesra. Namun ternyata semuanya tak sesederhana yang kusangka. Di balik hubungan yang ada, ada komitmen yang diam-diam menuntut untuk dipanggul berdua.
---------------------------------------------------------------------------------
Bersamamu, aku belajar tentang cinta yang ternyata tak jauh dari perkara menurunkan ekspektasi. Kita belajar membuka hati untuk saling mengerti
Aku memang baru memahami benar mengenai cinta ketika menjalin cerita dengan dirimu. Sosokmu yang berbanding terbalik dengan sifatku. Namun, mungkin itulah yang kemudian menjadi perekat bagi kita. Bagai kubu magnet yang berbeda, kita justru selalu ingin bersama.
Pembawaanmu yang tenang pun siap meredam pribadiku yang memang mudah naik turun, yang dimana kita mau saling menerima kekurangan kita. Di sini, mataku terbuka lebar. Bersama dengan dirimu yang punya banyak beda, kita justru saling menggenapi. Kita pun dituntut untuk bisa saling menerima supaya bisa terus bersama.
---------------------------------------------------------------------------------
Bukan berarti kita tak pernah bertengkar hebat soal hal-hal remeh. Tapi jika kuingat kembali, kau tak pernah membuat hatiku remuk sampai leleh
Tak bisa dipungkiri, hati kita pernah menyimpan banyak amarah hingga pada akhirnya membuat kau dan aku sama-sama jengkel. Pertengkaran tanpa pemenang pun pernah menjadi santapan rutin. Kau mempertahankan pendapatmu terkadang secara egois, begitu juga dengan aku mencoba bertahan pada apa yang aku yakini.
Terkadang kita bertengkar hingga tak lagi kita saling mengucapkan kata-kata sehingga kata maaf semakin enggan terucap karena gengsi yang sedang memegang kendali. Kita bagaikan di dalam lomba marathon yang berusaha mendapatkan gelar juara. Meskipun tanpa adanya piala yang diperoleh.
Namun, kemudian aku menyadari, banyaknya pertengkaran yang kita alami, hatiku ini belum pernah pecah berserak dan mati. Bentuknya masih utuh sempurna, seburuk apapun perdebatan yang ada kau masih selalu berniat untuk menjaga.
---------------------------------------------------------------------------------
Di akhir hari kau menerimaku dengan tangan terbuka. Kita memang keras kepala — tapi juga tak pernah lupa saling cinta
Umur hubungan yang kita jalani memang tak terasa makin menua. Aku dan kau sudah menghabiskan ratusan hari bersama. Tentu saja tak cuma hari yang berlimpah tawa serta hujan kecup mesra. Hari terburuk pun pernah kita resapi berdua. Ketika aku dengan tanpa sadar berada di titik terbawahku dan saat kau punya banyak beban dan aku siap menopang.
---------------------------------------------------------------------------------
Di tengah tegangnya perselisihan kita, di matamu kutemukan keyakinan sederhana. Ada hal baik di balik semuanya. Semua yang kita lalui jadi jalan setapak masa depan, bersama
Aku meyakini benar kita tak akan bisa sekuat ini tanpa ditempa dengan berbagai kesukaran yang pernah ada. Jatuh bangun yang pernah kita lewati membuat lapisan keyakinan kian menebal. Timbunan kepercayaan untukmu juga makin meninggi. Begitu pula dengan asa mengenai masa depan yang makin ..............
---------------------------------------------------------------------------------