Sunday, June 14, 2015

For You Who Keep Trying

For someone who stand by my side, no matter what happen. I know that you will always be watching me out. You will always be there and gave me those feeling from a distance. Always anything I do, you know it and you always tend to know even more. Admiration isn't wrong after all my beloved sister.
Well, there are choices which can't be think logically. Just like us, between you and me. We tend to take care of each other but you didn't force to seize me.
Being the best is what you do, even I know how much you really want this to be more than now. How you always hugs me and stand by my side and hold my hand when I'm down. It was clearly shown on your face and eyes. How much you want this to be more. How much you want us to be together.

1. Maintain without any idea what will happen later.


To share everything thing that we did together. Days we spend time to try hide how comfortable we are. I never know, how often you gave me those glance, and how you make my smile as your encouragement.
I know you're stealing a moment just to see me, giving me prayer and encouragement that I never realize how deep your feelings are.
I've never seen you get disappointed, even though at the first meeting I wasn't single. In the past I was someone else's encouragement which encouraged by you. I admit that being with you was comfortable even though I was with someone else.

2. Looking at each others feels enough.

Even though we are still close but time is the reason why we can't meet now. And I still think about burying all this thought about how good you are to me. Hey sister, I was sad at the time, I was hurt by someone. And there you are trying to know my situation and after that even I went for someone else. You still stand by my side. You are the only person who believes that I still right and that I can get through everything.
I never dare to acknowledge on how I feel about you, Now I look at you and it feels that it was enough even though I will still to deny that we are not mean to be together because of similar reasons.

3. Happy being with you.

I'm happy now sister, though sometimes I'm in a fight with my relationship with someone (which are now has ended) who I admire but it all look reasonable at the time. I admit that I lose, feeling defeated by your feeling which so strong feeling to be by my side and how I let it go to be with someone who seems don't appreciate me at all. Which I volunteered to go with her. With someone who was reasonable not with you who was comfortable and loving. But that's life and choices, a life I had to choose.

4. How happy I am with what I chose.

Anyway, just straight to the point, I don't have time to regret how much I deny that you are very good, even sometimes I want to gave you a second chance without any pledge about anything.
And again I suppose it must be forgotten and forsaken what I call comfortable. I was trying to examine that comforts was a different comfortable though you know that I'm not honest about that.

For a friend and also a sister who keep maintain being with me, and stand by my side even we are not likely will be lovers, thank you very much. I do love you, as a sister, as a friend and also as a family.

Merelakanmu Bukan Berarti Aku Menyerah

     Sebagai seseorang yang telah memasuki umur 25 dan sudah seharusnya menuju kekedewasaan, tentunya kita pernah berusaha menemukan jodoh kita. Ini sudah bukan lagi umur dimana kita masih mau bermain-main dalam menemukan pasangan. Bukan lagi hanya untuk kesenangan belaka, tetapi untuk berpikir lebih jauh dan lebih serius.

Beberapa hal mungkin telah kita lakukan. Diantaranya dengan menjalin komunikasi dengan beberapa orang yang menarik perhatian kita. Kita pun punya krtiteria sendiri tentang seperti apa sosok orang yang ingin kita cari tahu tentang dirinya dengan lebih dalam. Hal itu karena kita tak lagi ingin lagi bermain dengan cinta-cintaan.


Kita inginkan sosok yang benar-benar serius berjuang bersama dalam suka maupun duka kalau bisa hingga ajal menjemput. Karena ingat pernikahan hanya ada sekali. Setidaknya itu dalam pemahamanku. Bukan sesaat sebagai cinta monyet saat masa SMP-SMA atau bahkan awal kuliah. Cinta yang sering putus nyambung dalam pacaran. Bahkan sering pula berganti-ganti pacar dengan alasan ketidakcocokkan atau tidak mau mengerti. Hingga selanjutnya, seolah terasa begitu silih bergantinya orang yang dekat dengan kita. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Terkadang pun terasa lelah juga kita mencarinya.

Hingga akhirnya kita temukan seseorang yang begitu nyaman kala diajak berkomunikasi. Nyambung diajak bicara, serta terasa begitu menyenangkan hati saat kita bersamanya. Dan dimana kita bisa sepenuhnya terbuka tanpa harus menutupi apapun terhadapnya. Bukan karena ia sering memberikan hadiah pada kita. Bukan pula karena fisik ataupun kata-kata manis yang dilontarkan atau lebih tepatnya hanya karena gombal belaka, semua janji manis tanpa memikirkan kedepannya. Namun kita telah merasa menemukan sosok ideal itu. Sosok yang pantas kita jadikan pendamping hidup kelak.

Ketika waktu bersamanya terasa bergulir begitu cepat. Rasanya kita benar-benar begitu dekat sekali dengannya. Tanpa mengatakan kata cinta pun kita sudah tahu bahwa bahwa dia telah mencintai kita. Cinta itu mengalir begitu saja. Seolah gerak perhatian kita itu mengandung rasa cinta. Dia pun demikian, seolah dia begitu bahagia dengan hadirnya kita. Kini ia telah menjadi sosok istimewa bagi hidup kita. Namun di sisi lain yang tak kita duga. Karena dia begitu istimewa, tentunya tak hanya diri kita saja yang mencoba memilikinya. Banyak orang di lain sudut yang silih berganti melakukan hal yang sama seperti kita. Mereka yang mencoba meyakinkan si dia seperti kita. Bahwa setiap dari mereka meyakinkan si dia bahwa pantas untuk mendampinginya menjalani hidup. Terkadang banyak sekali saingan.

Meski dia telah menerima kita dan mengungkapkan bagaimana cintanya kepada kita, namun karena kita belum terikat dalam jalinan pernikahan, terkadang muncul anggapan bahwa masih kesempatan untuk pergi bersama siapapun yang bisa merebut hatinya dari genggaman kita. Faktanya memang banyak yang pindah kelain hati walaupun dua insan telah lama berpacaran. ada yang hanya bertahan 2 tahun, ada yang hitungan 11 tahun bahkan lebih atau lebih singkat hitungan bulan, tapi nyatanya mereka bisa pisah dan pindah ke lain hati. Ya, itu karena ikatan dalam pacaran tidak mempunyai kewajiban sepenuhnya untuk tetap bertahan. Sebenarnya itu memang tergantung komitmen terhadap diri sendiri tapi kembali lagi ke pribadi pasangan. Sah-sah saja karena namanya juga jenjang pengenalan. Walau ada yang menganggap bahwa ini sebagai tahap menjalin keseriusan tapi sebaliknya juga ada yang menganggap bahwa pacaran bukanlah proses yang tepat. Seorang dari temanku juga berkata bahwa kita berpacaran adalah langkah awal untuk menuju jenjang menikah dengan masalah kita.

Kembali ke topik awal, terkadang kita merasa yakin, tapi akan selalu ada saat-saat dimana keyakinan kita tergoyahkan, karena hadirnya sosok lain yang begitu istimewa di hidupnya. Aku akan mengambil contoh sebagai mahasiswa dengan yang sudah bekerja- ada temanku yang 11 tahun sudah berpacaran tapi akhirnya berpisah,
"Terkadang sosok-sosok saingan kita itu hadir seseorang yang juga sangat menarik perhatian si dia. Bahkan kita sadar bahwa dia lebih baik dari kita."


Sosok itu pun sudah begitu siap untuk meminangnya. Hingga suatu saat si dia pun terlihat gundah dengan perasaannya. Apakah tetap ingin menunggumu atau beralih mempersilahkan orang lain untuk membahagiakan dirinya. Hal itu bukan menandakan bahwa dia itu sosok yang tak setia dengan perasaannya. Tapi ada pula yang ragu ketika mulai di terpa masalah-masalah dimana ia merasa seorang yang lain merasa lebih membuat dia nyaman dibandingkan kita. Sehingga dia dilanda kebinggungan diantara 2 orang. Namun karena memang setiap orang punya hak untuk memilih pasangan yang terbaik di hidupnya sebelum memutuskan untuk menikahinya.

Berbeda halnya dengan pernikahan, karena kebanyakan orang berharap bahwa pernikahan itu cukup sekali, berjuang bersama dan jika beruntung membesarkan anak-anak hingga besar nanti dan berharap bisa bertahan hingga akhir ajal. Maka terkadang dalam ikatan pernikahan, walaupun ada seribu sosok lain yang datang menghampirinya. Dia yang baik itu akan tetap setia untukmu, karena dia telah menjadi milikmu. Kita mulai berpikir, apakah ingin tetap memperjuangkannya atau merelakannya bersama orang lain. Hal itu mungkin terasa menyakitkan bagi diri sendiri. Bahkan begitu berkecamuk di hati.

Akhirnya kita tersadar, bahwa jodoh itu bukanlah didapatkan dengan memaksa orang lain untuk mau bersama kita. Namun kerelaan dengan ikhlas mau bersanding dengan kita. Cinta itu juga bukan hanya tentang rasa untuk memiliki seseorang, namun rasa untuk membuat orang lain lebih bahagia semenjak bersama kita. Kita pun akhirnya merelakannya, menyadari dan memahami mungkin si dia akan lebih bahagia bersama dengan sosok itu.

Kesadaran dan kepahaman inilah yang mampu meredam pedihnya hati karena tak akan memilikinya. Di sisi lain tiba-tiba si dia justru bertanya pada kita dengan wajah sedihnya.

"kenapa kamu menyerah untuk mendapatkanku?"

"Apakah kamu sudah bosan sama aku?"

"Apakah kamu ga mau menunggu aku lagi?"
etc

Terkadang hal ini kembali ditanyakan meski dia sudah bersanding dengan orang lain? Sesungguhnya pertanyaan ini tidak bisa dijawab, kita merasa waktu berjalan pelan dan membuat kita binggung. Bukankah dia juga menyukai sosok yang lain? Namun dia masih ingin diperjuangkan? Bagaikan saklar lampu tiba-tiba perasaan kita menjadi kosong dan merasa apakah tidak aneh? Tidak cukupkah dia dengan dia atau setidaknya memilih satu? Karena sekarang setelah semua ini, semua kata-kata sudah berat rasanya untuk diucapkan. Yang kita ketahui hanyalah bahwa kita telah mencintainya dengan tulus dan bertahan hingga kini. 

Sekali lagi diingat tapi, jangan merasa pertanyaan ini sebagai kesombongan diri kita bahwa dia masih mencintaimu dan merasa bahwa kita adalah pemenang. Tetapi ada kalanya kita harus rendah diri dan pergi, karena terkadang sudah tidak bisa lagi kita memperjuangkan yang seperti ini, ya mungkin dia cinta sejatimu, dan mungkin pula kamu mau memperjuangkannya, bila ya, maka perjuangkanlah dia, tetapi bila dia masih dengan yang lain, janganlah menjadi penganggu dan terimalah kenyataan itu. Ingat bahwa dalam setiap hubungan pasti akan berpisah, tinggal kita menerima kenyataan ini dan melepaskan. Setidaknya kamu telah berjuang dengan tulus.


"Merelakanmu bukan berarti aku menyerah, tetapi aku ingin kamu bahagia"