Malam ini sesuatu aku sadari...
Mengapa aku begitu desperate untuk mendapatkan cinta...
Bahkan aku terkesan memaksakan diriku...
ku takut bahwa diriku hilang,aku takut tak lagi diterima orang
Ya... memang begitu...
Aku tahu dia sudah jadi milik orang lain, tapi aku masih saja berharap akan semua kata-katanya...
Bodoh, ya memang bodoh. Aku tidak tahu apakah ini hanyalah perasaan setelah break-up yang merantaiku? Atau hanya sebuah harapan bahwa semua akan baik-baik saja?
Selama ini aku memang sudah sering 'date' dengan beberapa orang, baik secara resmi. Aku sayang mereka, dan selama aku memiliki hubungan dengan mereka, aku hanya sayang pada mereka.
Tapi ke belakang ini, aku menyadari, mengapa sepertinya aku desperate untuk mendapatkan cinta?
Aku tau orang sering bilang "Single itu nyaman kok" atau "Seharusnya kamu bisa hidup bahagia bahkan tanpa memiliki hubungan pacaran"- Ya memang aku setuju, memang siapa bilang jomblo itu ngenes, siapa yang bilang kalau ga punya pacar itu ga bahagia... Tapi kenyataannya, entah mengapa aku begitu desperate dengan "Ingin disayangi dan menyayangi seseorang".
Bahkan akhirnya sudah jelas dia sama siapa, tapi aku desperate untuk tetap dekat, untuk tetap sayang... Meski sudah jelas dibohongi, bahkan tak ada kata-kataku yang dia ingat... Janji yang ada maupun mungkin hanya turun level ke "Aku sayang kamu" hanya ketika bertemu?
Apakah aku terlalu berharap akan cinta karena situasi keluargaku?
Is that so bad that i want it so much?
Sebenarnya aku tidak akan terlalu perduli kalau ini tidak berpengaruh pada mentalku sampai hariku sering rusak karenanya. Ya, aku pada akhirnya menjadi pribadi yang jauh lebih buruk daripada dulu.
Mengapa aku begitu tergila-gila. Mengapa aku bisa jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.
Tentu biasanya dari semua curhat yang masuk padaku ketika mereka patah hati setelah putus, mereka merasa tidak nyaman karena mereka jadi merasa ragu apakah mereka benar-benar dicintai atau hanya dipermainkan. Bukankah wajar ketika PDKT semua terlihat indah tapi ketika putus seringnya berakhir buruk? Aku sudah mengerti ini dari awal, tapi untuk kasus kali ini semua berbeda. Bahkan ketika dia sudah jadi milik orang lain, aku masih saja berharap lebih. masih saja menyentuhnya dengan sepenuh hati. masih saja menciumnya bahkan memeluknya. Apa yang aku harapkan dari semua ini? kenapa aku begitu bodoh hingga bertukar posisi? Apa bedanya aku dengan dia kalau begitu? Sekali lagi kenapa aku mau dibegitukan? Kemana diriku yang tegas, yang tidak ingin menganggu milik orang lain? Kenapa turun ke level yang bagaikan pecundang? tapi takut untuk move on?
Okey cukup tentang aku... Aku ingin menilai diriku sebagai orang dari luar diriku...
So:
I need to be loved so much, I want to feel loved
Ketika masih menjadi pendengar yang baik, aku sering mendengar kata-kata ini dari temanku yang curhat padaku, khususnya cewek. Bahwa mereka butuh cinta atau mereka ingin seseorang untuk mencintai mereka dan hanya mereka.
Bahkan kadang setelah putus, mereka jadi ragu akan perasaan pasangan mereka, apakah mereka benar-benar tulus menjalani atau hanya "tresno jalaran kulino" atau "pemanfaatan" atau "trophy". Well name it as you like it. Sebuah denial.
Perasaan "ingin disayangi" sebenarnya alasan utama seseorang merasa galau setelah putus dan tentunya bukan terhadap pasangan mereka sebelumnya- ingat bukan pada mantan terakhir!!!
Terkadang kalau mereka curhat sama aku, kata-katanya yang paling sering keluar "aku cuma mau tau kalau dia itu sayang ga sih ama aku?" setelah putus. -ini nih yang menyebabkan susah move on. Kepo akan perasaan setelah kalian memutuskan untuk berpisah. Dan terkadang, ketika mereka tidak disayangi, mereka berharap semua bisa diperbaiki dan dijalani lagi tapu ada juga setelah mereka sadar bahwa mereka disayangi- mereka langsung get over the feeling dan move on sesegera mungkin.
Kembali pada kenapa seseorang merasa butuh dicintai? atau mengapa mereka perduli tentang dicintai daripada menjaga hubungan pacaran itu sendiri? Aku ingat pernah membaca tentang psikologi bahwa manusia membutuhkan orang lain dan membutuhkan cinta.
The psychological need for love
Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah rasa cinta. Dalam psikologi, ini tidak dianggap gangguan selama tidak mempengaruhi kehidupan seseorang secara negatif. (jadi stalker, jadi orang mesum, pencuri pakaian dalam atau lainnya yang menganggu)
Tentunya juga dianggap menganggu bila perasaan butuh rasa cinta:
- Membuatmu jauh dari hidup bahagia. (disebuah film aku pernah dengar "love has no meanings unless i find someone who loves me" yang berakhir orang ini membunuh orang yang dia cintai. Okay, it's creepy. So don't be like this person)
- Lebay!! Jalani aja seperti biasa, jangan terlalu lebay karena lebay akan berakhir pada kamu meragukan dirimu sendiri apakah kamu dicintai atau tidak. Apakah perasaan dia sama seperti perasaanmu?
- Dan dari 7th habits- ketika rasa akan dicintai menjadi duniamu-menjadi hal yang terpenting dalam hidupmu.
tentu ini hanya beberapa yang aku tuliskan, masih banyak yang lain, tapi bila tanda-tanda ini ada di diri kamu, sudah pasti bahwa ada yang salah akan cara berpikirmu dan ini harus dirubah. Khususnya untuk si penulis. Haha. (LOL). Kalau semua yang kamu perdulikan di dunia ini hanya untuk merasa dicintai seseorang atau menemukan seseorang yang hanya mencintaimu- sepertinya kamu harus kembali menoleh ke masa lalumu, dan melihat apa yang pernah terjadi hingga terjadi perubahan yang aneh pada dirimu. -Untuk si penulis sih terjadi setelah Lie dan sebelum semakin jauh sudah harus instropeksi diri-
Tentu tiap orang berbeda dan sebagai hasil dari perjalanan hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang berbeda, hasrat yang berbeda dan apa yang membuat mereka berjalan sesuai dengan masa lalu mereka. Beberapa ada yang membawa mereka menjadi pribadi yang tidak yakin bahwa mereka berharga dan membawa mereka BUTUH dicintai sebagai bukti bahwa mereka itu sama seperti orang lain. Atau bahkan sebaik orang lain.(Kamu mungkin mau tahu dasar
masa lalu mempengaruhi kehidupan masa dewasamu)
Ini beberapa contoh yang menyebabkan mengapa kamu merasa sangat butuh untuk dicintai orang lain:
- Orang Tua : Tentu saja, ke dua orang tua, bagaimana kita(aku) berinteraksi dengan ayah ibu kita. Lihat saja beberapa pasti ada jarak yang cukup terlihat diantara orang tua dan anak, Pengambilan jarak-sikap dingin-dan acuh tak acuh bahkan di antara ayah dan ibu.. Terkadang karena orang tua yang seperti ini kita tumbuh menjadi "aku ingin dicintai" bahkan menjadikan ini sebagai upaya bahwa kita tidak akan menjadi seperti orang tua yang seperti ini dan kerap kita mendengar "Aku ingin dicintai oleh suamiku kelak" atau "aku ingin dicintai oleh istriku" tapi pada akhirnya ketika memiliki hubungan, kita selalu menjadi ambigu dan skeptik tentang perasaan pasangan kita.
- Saudara : Sebenarnya menjadi yang termuda kerap kita merasa kita kurang disayangin, (tentu ada juga yang termuda lebih disayang), menjadi yang termuda di keluarga, kadang merasa tersisihkan di keluarga. Tapi ada pula kasus dimana yang tertua dibanding-bandingkan dengan yang muda, lebih pintar, lebih rajin, lebih bersih ataupun lebih berprestasi. Pada akhirnya yang selalu dianggap buruk atau kurang bisa menyaingi satunya merasa "apakah orang tuaku sayang padaku?" atau "Mereka hanya sayang akan saudaraku, apa-apa selalu saja saudara(kakak/adik)ku. Pada akhirnya kita kerap tumbuh untuk menjadi lebih daripada kegagalan-kegagalan kita dan mengapa ini menjadi perasaaan aku ingin dicintai.
Dari kedua diatas akhirnya memperngaruhi kehidupan kita di luar: Setelah melihat ted.com ada beberapa alasana kenapa orang merasa membutuhkan rasa cinta terhadap dirinya, bagi mereka, rasa dicintai sama dengan rasa diakui oleh seseorang, dianggap penting oleh seseorang. Tentu saja pada akhirnya orang-orang seperti ini mempunyai masalah pribadi akan skeptikal benarkah (benar-benar dicintai oleh pasangan) atau benarkah kita pantas untuk dicintai? Tentu semua ini dapat berubah asal kita memiliki kepercayaan diri. Tapi menjadi skeptikal karena masa lalu bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ketika kita begitu ingin diakui oleh orang lain.
I am so much in need of love!
Bila kamu selalu mengatakan "aku butuh seseorang yang mencintaiku" atau " Aku tidak merasa dicintai" sepertinya aku dan kamu harus segera mengerti bahwa yang kita cari itu cinta, bukan pasangan. Ini psikologi diri kita, karena tak perduli seberapa banyak pasangan kita, tanpa menyadari bahwa cinta itu ada, kita akan selalu menjadi skeptis akan perasaan pasangan kita.
Sebenarnya jangan merasa bahwa kita sangat membutuhkan dicintai atau merasa tidak pernah disayangi siapapun. Buka mata, karena ada mereka yang sayang padamu, dan perlu dimengerti bahwa rasa sayang kita yang memiliki masa lalu seperti diatas bahkan di luar itu, adalah perasaan yang berlebihan karena bila nantinya kamu bisa menanggalkan masa lalumu, kamu akan menemukan apa itu cinta.
Tentu saja kita juga perlu menumbuhkan harga diri dan rasa percaya diri bahwa kita itu pantas dicintai dan tidak perlu kita membangun dinding-dinding tebal karena kita takut sakit hati.
Dan yang paling terakhir "The Secret" Berhentilah berpikir negatif, apalagi selalu mengeluarkan kata-kata negatif hingga akhirnya kamu mempercayainya sendiri bahwa kamu tidak dicintai dan sangat memerlukan cinta.
Kalau kamu selalu berpikir bahwa orang tidak sayang padamu atau bagaimana mereka memperlakukan kamu hanya karena mereka baik dibandingkan karena mencintaimu, maka ini perlu dirubah. Kita perlu memikirkan cara lain, jangan dengan cara berpikirmu selama ini. Bangun cara yang lebih baik dan akhirnya rasa ingin benar-benar dicintai akan sirna dengan berjalannya waktu
Ada banyak buku ataupun web yang bisa kamu baca demi merubahmu. Salah satunya
Atau juga:
P.S ini adalah yang aku baca, sebenarnya mungkin tidak begitu berhubungan dengan yang aku tulis- tapi mungkin bagus untuk dibaca:
" Chapter 10: Tackling Your Dire Need for Approval A Guide To Rational Living, Albert Ellis & Robert Harper"
Tackling Your Dire Need for Approval
Irrational Belief #1:
The idea that you must have love or approval from all the significant people in
your life.
People strongly desire approval and would be much less happy if they received none.
Nonetheless, adults do not need approval. The word need derives from the Middle English work
nede, the Anglo-Saxon nead, and the Indo-European term nauto, which mean to collapse with
weariness. In English it mainly means necessity; compulsion; obligation; something utterly
required for life and happiness.
Wants, preferences, and desires are not needs or necessities. When you insist that you
absolutely must have approval, you self-sabotage yourself for several reasons:
Your demand that every important person love you creates a perfectionistic, unattainable goal. If
you could get ninety-nine people to love you, you will always encounter the hundredth that
doesn’t.
Even if you demand love from a limited number of people, you cannot usually win the approval of
all of them. Some, because of their own limitations, will have little ability to love anyone. Others
will disapprove of you for reasons entirely beyond your control. Still others will despise you
forever because of some prejudice against you.
Once you absolutely “need” love, you will worry how much and how long you will be approved. Do
others really care enough? And if they do, will they continue to care tomorrow and the year after?
With thoughts like these, you will feel endless panic.
If you always need love, you must always be distinctly lovable. But who is? Even when you have
lovable traits, how can you display them at all times for all people?
If you could always win the approval of those you ”need” you would have to spend so much time
and energy doing so that you would have no time for other pursuits. Constantly striving for
approval means living mainly for what others want you to do rather than for your own goals. It
often means playing the patsy and buying others’ approval.
Ironically enough, the greater your need for love, the less people will tend to respect and care for
you. Even though they like your catering to them, they may despise your neediness and see you
as a weak person. Also, by desperately trying to win people’s approval, you may easily annoy
them, bore them to distractions, and again be less desirable.
Feeling loved, once you achieve it, may be boring and bothersome, as people who love you often
make inroads on your time and energy. Actively loving someone else is a creative and absorbing
act. But the dire need for love easily blocks ardor. Perversely, it sabotages loving, because when
you demand intense affection, you have little time and energy to devote to the growth and
development of those on whom you make your demands.
The dire need for love frequently encourages your own feelings of worthlessness: “I must have
love, because I am a lowly incompetent individual who cannot possibly get along without it.
Therefore, I must have, I need, devotion from others.” By desperately seeking love in this
manner, you frequently cover up your own feelings of worthlessness and thereby do nothing to
tackle them and overcome them. The more you “succeed” in being greatly loved, the more you
may inflate this goal and continue to indoctrinate yourself with the idea that you cannot regulate
your own life.
For these reasons, you can rationally forgo the goal of gaining undying love. Instead, you’d better
accept yourself and remain vitally absorbed in people, things and ideas outside yourself. For
paradoxically, you usually find yourself by losing yourself in outside pursuits and not be merely
contemplating your own navel.
If you actually have a dire need for love; if you accept the fact that you have it; and if you keep
challenging, questioning, and disputing it, it will ultimately and often quickly, decrease. For
remember: It is your need; and you keep sustaining it. Other methods to combat and minimize
your overwhelming love needs include:
Ask yourself what you really want to do, rather than what others would like you to do. And keep
asking yourself, from time to time: “Do I keep doing this or refusing to do that because I really
want it that way? Or do I, once again, unthinkingly insist on trying to please others?”
In going after what you really want, take risks, commit yourself, and don’t desperately avoid
making mistakes. Do not be needlessly foolhardy. But convince yourself that if you fail to get
something you want and people laugh at or criticize you, and not merely show you how you
failed, they may have a problem. As long as you learn by your errors, does it make that much
difference what they think?
Focus on loving more than on winning love. Realize that vital living hardly consists of passive
receiving but of doing, acting, reaching out. And just as you can force yourself to play the piano,
do yoga exercises, or go to work every day, you can also often commit yourself to loving others.
In so doing, your dire needs for their love will probably decrease.
Above all, don’t confuse getting love with having personal worth. If you rate yourself as having
intrinsic worth or value as a human, you’d better claim to have it by virtue of your mere existence,
your aliveness- and not because of anything you do to “earn” it. No matter how much others
approve you, or how much they may value you for their own benefit, they can only give you
extrinsic value or worth to them. They cannot, by loving you, give you intrinsic value- or selfworth.
If intrinsic value exits at all (which we seriously doubt, since it seems an undefinable thing
in itself), you get it because you choose, you decide to have it. It exists because of your own
definitions. You are “good” or “deserving” because you think you are and not because anyone
awards you this kind of an “inherent value”.
If you can really believe these very important points- that you need not rate yourself, your
essence at all, and that you can choose to call yourself “worthwhile” just because you decide to
do so- you will tend to lose your desperate need for others’ approval. For you need- or think you
need- their acceptance not because of the practical advantages it may bring, but because you
foolishly define your worth as a human in terms of receiving it. Once you stop this kind of selfdefeating
defining, your dire need for their approval tends to diminish. Similarly, if you reduce
your dire need for others’ esteem, you will find it relatively easy to stop rating yourself as a
person, even though you continue to rate many of your traits. You will create unconditional selfacceptance
(USA)- will value yourself merely because you are alive and kicking, and for that
reason alone “deserve” to have an enjoyable life.
P.P.S : TEntu semua ini tidak bisa dilakukan begitu saja, karena bahkan aku sendiri belum bisa merubah sifatku ini, aku tidak bilang ini akan mudah. Tapi asal ada kemauan, tentu saja bisa. Mari kita sama-sama berjuang untuk menanggalkan rasa ingin dicintai dan lebih menerima apakah cinta itu sendiri. :) Mungkin aku terkesan munafik atau sok tahu. tapi everyone have their own right to write. Dan kita bebas menuangkan apa yang kita pikirkan. Tentu saja teori terkadang lebih mudah daripada mempraktekan. Kata-kata lebih mudah diucapkan daripada melakukannya. tapi tak ada salahnya kita berbagi... Semoga kita sama-sama maju menjadi lebih menerima diri kita sendiri dan bukan apa yang orang lain harapkan ataupun obsesi kita akan dicintai oleh orang lain. Good luck readers.
Writers
Be