Sunday, April 5, 2015

Hal yang aku mungkin harus aku rubah dalam diriku. part 1

Aku pernah mencintai seseorang dengan sangat dan bahkan terlalu. Bahkan sampai detik ini aku masih terlalu sayang sama dia.. 
Aku pikir aku bisa mendapatkan kebahagian yang berujung hingga akhir hayat bersamanya, mencintaiku seperti aku mencintainya, menjaga perasaanku seperti aku menjaga perasaannya. Apapun yang ia minta aku penuhi, apapun yang ia larang pasti aku turuti. Dia kuanggap sebagai pasangan hidup sekaligus adik, sebagai kekasih sekaligus sahabat karena dengan begitu aku akan mencintainya juga menghargainya.



"Tidak bisa membedakan mana cinta sungguhan dan mana cinta dengan pemanis buatan. "

Ah tidak baik mengatakannya seperti itu sesungguhnya hanya dia yang tahu. Dan dia mengatakan bahwa dia sayang padaku tetapi tentunya juga sayang pada yang lain... Sudahlah, lebih baik mengingat awal ketertarikanku padanya. Seperti baru kemarin, aku kelas SMP gemuk jelek dan pendek dan sering dibully oleh teman seangkatanku bernama Gabriella Susanti Daud, dari sinilah nantinya aku mengenal dia "adek" kelasku. Saat itu dia kelas 1, dan aku kelas 3.. tapi karena saat itu aku memiliki keinginan untuk jadi romo, jadi aku tak pernah mengubris cinta monyet macam itu... Tapi pertemuan kami kembali setelah SMA dan aku sangat terkesan padanya karena dia yang ceria, dan mudah diajak ngobrol, "KAta orang jawa Tresno jalaran kulino", ya mungkin itu awalnya...Tapi tentu saja tak tersampaikan karena ketika itu dia punya pacar... (Sampai akhirnya 2012 baru bertemu kembali). Tak perlu detilnya karena aku hanya akan semakin sakit mengingat semua itu...  Waktu berlalu dengan cepat begitupun dengan hubungan kami. Kami mulai mengenal satu sama lain, mungkin hanya dari sifat dan tingkah laku aku lebih mengenalnya, 

"Terlalu penurut! "
Mungkin itu kata-kata yang pas untukku. Selama kami bersama, mungkin bisa dihitung kata tidak, nggak atau kata-kata penolakan keluar dari bibirku. Bahkan yang selama ini aku terlalu protektif akan cara berpakaiannya akhirnya tetap saja aku luluh.
Hari-hari kami lalui begitu indah seperti layaknya anak SMA yang di bius cinta. (Sampai pada ahirnya hanya dia yang aku punya. Teman, persahabatan apa arti semua itu? aku sama sekali tidak mempunyai teman dekat bahkan aku mem'push' semua wanita yang memiliki perasaan lebih padaku.. 
Dulu, aku sangat yakin dia adalah yang terbaik, yang menghapuskan rasa khawatir dan traumaku. Aku juga berharap dia satu-satunya wanita yang akan kubawa ke pelaminan dan berjalan bersama dalam hidupku. Karena sebelumnya, dia nyaris tak ada cela, baik dan perhatian padaku. Sifatnya selalu membuatku terkesan, tapi seiring berjalannya waktu kenyataan berkata lain. Dia sosok yang egois, tidak suka diatur, angkuh dan terlalu memaksakan logika. Tentu aku terkadang kerap memaksakan kehendakku. Kami sama-sama egois tapi tentu saja aku harus selalu mengalah. Karena cintaku, Aku selalu menerima kekurangannya itu dan selalu berharap suatu hari dia akan seperti dulu lagi. Tapi harapan benar-benar berbanding terbalik. Impian selalu bersamanya harus aku kubur dalam-dalam, karena tidak ada yang perlu aku harapkan darinya lagi, karena dia lebih memilih pria lain dibanding aku. Dia yang kucintai, kupercaya, kuhargai perasaannya, ku turuti keinginannya dan ku jaga hatinya, tanpa rasa berdosa mengatakan bahwa dia sayang sama 2 orang. dan akhirnya lebih memilih pria lain yang baru dia kenal dibanding aku yang hampir 3 tahun bersamanya.

"Terlalu terbuka dan ingin tahu"
Kebiasaanku sejak berpacaran dari pacar pertama hingga yang aku jalani yang terakhir ini justru menjadi pisau yang mengirisku halus, pelan tapi pasti. Sejak awal aku sudah menjelaskan, bahwa akan jujur tentang banyak hal. Kamu boleh buka semua pesanku begitu juga sebaliknya. Tentu dalam taraf wajar, tapi jujur sebelum dia yang aku cintai dengan berlebihan, aku tidak begitu perduli dengan pesan ataupun dengan siapa mereka dekat. Tapi khusus untuk yang satu ini...3 kali aku merasa remuk redam. Tentu saja aku berubah, ketika semua itu selalu terjadi berulang-ulang. Aku terkadang memegang hp untuk main HP atau cari gambar DP BBM yang menarik atau lucu. Selama 1 tahun itu hal biasa, tapi tiba-tiba dia menjadi protektif dengan alasan ada curhatan teman. Dan history selalu dihapus. Tentu saja aku jadi curiga dan membuka history terkadang ketika ada percakapan diantara kalian. Sampai akhirnya ada kata-kata "terima kasih sayang" di detik itu juga aku tidak berniat memegang hpnya lagi dan kuletakkan dan aku tidak mau mendengar penjelasannya. Bahkan aku bilang, "iya gpp, aku ga perduli kok". Tentu saja sakit, tapi saking sakitnya akupun tak mau jujur padanya. Sampai akhirnya dia benar-benar meng cut-off orang ini. Tapi setelah itu aku tak pernah lagi membuka history di hp dia. Sampai suatu ketika dia menjauh dariku, ketika aku cari selalu ada saja alasan untuk tidak bisa bertemu, online tapi tidak membalas percakapanku, bahkan ketika ibuku masuk rumah sakit, Disitu aku dengan jelas mengirimkan pesan padamu, dan dengan jelas aku melihat kamu chatting tapi tidak membalas chatku, maka aku ambil HPnya dan aku sodorkan kedia, dia chatting sama si SIM. Ya, dari situ, dia jelas memilih "Aku butuh teman untuk curhat, yang bisa objektif. Aku ngerasa ga diterima dimana-mana. Aku ngerasa...." Didetik itu kata-kata dia selanjutnya tidak ada yang masuk dalam pikiranku. Aku blank, aku kecewa dan sedih. Selama ini dianggap apa perjuanganku? Dianggap apa khawatirku? Tentu disini aku masih memaafkan dia, aku meminta dia memilih dan dia bilang aku yang dia pilih. Sampai akhirnya mau masuk ke tahun ke-3, dimana dia mulai melupakan janji bersamaku, dan selalu unavailable untukku. 

"terlalu sering bersama, terlalu over protektif"
Akhirnya kamu menceritakan betapa kita terlalu sering menghabiskan waktu bersama, betapa aku mengkekangmu, sehingga kamu tidak bisa mempunyai kehidupan lain, tidak bisa memperluas koneksi. Ya aku salah karena aku terlalu khawatir khususnya ketika pergi jauh-jauh ataupun pulang malam. Ya aku yang binggung akan perasaan berlebihan yang tidak bisa aku kontrol ini. Ini perasaan baru yang aku alami. Benarkah aku over protektif? benarkah aku cemburuan? Karena cemburuku untuk kamu baru 2x. Aku tidak perduli kamu peluk sahabatmu, kamu pergi sama siapa, aku tidak cemas, karena aku terlalu percaya sama kamu, bahwa kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku. Makanya aku selalu ingin tau kebiasaanmu kesukaanmu, dan masa lalumu. Cukup kabari sudah sampai, tapi sepertinya itu susah. Apakah perhatianku benar-benar kamu butuhkan? Sekarang aku bertanya-tanya. Aku yang selalu mendengar keluh kesahmu,

"terlalu terburu-buru"
Tentu saja yang satu ini yang harus aku rubah, terlalu terburu-buru. Hanya karena aku sayang dan attached tanpa alasan. It's just happen, seriously. Perasaan ini tiba-tiba muncul untuk dia, betapa aku aku rela berjuang untuk dia, dan betapa senyumannya selalu bisa merubah hari ku. Dan ini membuatku berpikir bahwa she's the one. Aku terlalu terburu-buru, tentu aku tidak menyesal memberikan perlakuan spesial untuk dia, yang aku sayangkan hanyalah kenapa berakhir dengan dia menyayangi 2 orang. Sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti dan semoga tidak akan pernah aku mengerti apalagi rasakan. Pembelajaran untukku agar tidak terlalu terburu-buru.

To be continue... 



P.S: edisi revisi: aku yang sebenarnya salah karena mereka dekat karena kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. aku yang memutuskan dia duluan. In her defends, that's how. How about before then?

No comments:

Post a Comment