Thursday, March 26, 2015

It's a privilege to have my heart broken by you… :’)

Hey kau yang berada disana,

Apa kabarmu? Mungkin akhir-akhir ini kamu tengah sibuk dalam pekerjaan dan kuliahmu. Aku bisa membayangkan betapa lelahnya dirimu, tapi sekarang kita adalah orang yang hanya sebatas kenal. Walaupun kamu tidak pernah mengatakan padaku, aku tau kamu sangat terbeban dengan beberapa hal serta tanggung jawab dan kewajiban yang harus kamu pikul... Apabila kita bertemu lagi? Akankah kita saling menyembunyikan wajah lelah kita dan menunjukkan senyuman yang tersungging maksa? Akankah kamu sembunyikan masalahmu dengan melempar candaan sebagai ganti pertanyaan-pertanyaan yang kamu anggap terlalu serius? Akankah juga kamu mengatakan sayang padaku ketika kamu juga mengatakan pada yang lain?

Hampir 3 tahun perjalanan kita bersama, sungguh disayangkan kamu meminta aku mengerti bagaimana rasanya bisa jatuh cinta pada dua orang sekaligus...

Ya hal ini akan selalu aku ingat. Karena aku yakin kamu akan selalu menjadi bayang-bayang yang menghantui dan selalu mendiami salah satu sudut hatiku ini.

Kamu yang selama ini selalu menjadi segalanya untukku dan yang selalu aku utamakan akhirnya memilih orang lain. Aku sengaja menuliskan semua ini sebagai pengingat bagaimana tidak terlalu mempercayai seseorang dengan berlebihan. Aku memang seorang pria yang jatuh cinta padamu dengan sungguh-sungguh. Tahukah kamu, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta sekaligus patah hati dalam waktu yang bersamaan. Sudah kukatakan berulang kali sebelumnya,. 

"I will love you with all my heart, even if it will make me crazy when everything ended. I will take that chance"
" I love you not because of I need you. But I need you because I love you"

Kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, kamu dengan segala kesederhanaanmu yang entah bagaimana caranya bisa memikat dan mengalihkan hampir seluruh perhatianku kepadamu. Kamu jugalah yang pada saat bersamaan bisa membuatku patah hati. Tak perlu ku jelaskan mengapa aku mengatakan hal seperti itu. Terkadang aku merasa murka, kenapa Dia harus menghadirkan sosok yang selama ini aku inginkan apabila akhirnya tidak akan mungkin kumiliki sampai kapanpun. Tak jarang aku memaki diriku sendiri yang begitu saja bisa ‘kecanduan’ dirimu. Iya, kamu itu candu. Setidaknya bagiku (dan mungkin juga baginya)...


Setiap kali aku menuliskan tentangmu, setiap kali itu juga otakku selalu mengingat semua waktu yang pernah aku lalui denganmu. Perdebatan yang sebenarnya tak penting, serta kenangan indah yang kita lalui, Khususnya ketika kamu tertawa ketika aku bertindak konyol. Aku tahu sungguh kecil kemungkinan kamu membaca blog ini (karena semua surat yang aku buat untukmupun tidak pernah kamu baca). Sungguh, sebelumnya aku sudah berusaha menyimpannya rapat-rapat ; sendiri. Setidaknya itu yang selalu berusaha aku lakukan. Menyimpan perihnya saat kamu menceritakan dan mengingat masa lalumu. Dan pada akhirnya aku juga menyimpan perihnya saat kumenyadari kehadirannya, atau menyimpan perihnya saat kamu bersamanya. Beberapa kali aku berusaha menjaga jarak denganmu, menghindari segala sesuatu yang berhubungan denganmu, berusaha tak mencari tahu kabar tentang keseharianmu,, tapi pada akhirnya ada seseorang yang selalu memberi kabar tentangmu, aku ingin berhenti mengontakmu, aku ingin pergi jauh dan tak lagi memperdulikanmu. Namun, lama-kelamaan rasa itu kian menyiksaku. Bagai duri yang menyumbat tenggorokan, aku tak kuasa untuk menahan rasa sakit ini. 

Kamu itu cuma satu dan tiada dua. Sungguh wajar kalau apabila bisa membuatku kecanduan sedemikian rupa hingga aku selalu memaafkan kamu setiap kali, hingga aku tidak bisa tidak memikirkan kamu. Tapi ketika kamu tak lagi sebahagia dulu disampingku, aku merasa sedih dan semakin tertekan. Semakin sakit rasanya melihat senyum itu hilang dari wajahmu,hingga akhirnya kamu memiliki dia. Aku tahu aku akhirnya cemburu, karena aku tahu dia menginginkan lebih padamu. Aku cemburu dan aku marah, namun sesungguhnya akan selalu ada hati yang lapang bila aku melihat senyummu terkembang disamping senyumnya,

Memang terdengar sangat klise, tapi aku yakin kamu bisa merasakan seperti apa rasanya, karena aku tahu kamu pernah merasakannya. Lagipula, bukankah lebih baik melihat orang yang kita sayangi bersama dengan orang lain daripada tidak bisa sama sekali melihatnya dihadapan kita?

Lalu bagaimana tentang rasa itu? Seperti yang berkali-kali aku katakan sebelumnya, kamu tak perlu khawatir, 



No comments:

Post a Comment